Aksi Oknum PLTU Rembang yang merampas HP Wartawan Mendapat Kecaman dari PWI

Aksi Oknum PLTU Rembang yang merampas HP Wartawan Mendapat Kecaman dari PWI

kecelakaan pltu rembang
mataairradio.com

jendelanet.com, Rembang – Wartawan Kecewa dengan Sikap Pegawai PLTU Rembang yang arogan dengan merampas handphone salah satu wartawan/pers yang meliput terjadinya kecelakaan kerja di PLTU rembang di rumah sakit umum dr R Soetrasno.

seperti yang dikutip dari mataairradio

Sejumlah pekerja pers yang melakukan peliputan kasus kecelakaan kerja di PLTU Sluke menerima intimidasi berupa ancaman dan perampasan ponsel berkamera.

Hal itu terjadi saat sejumlah wartawan dari media cetak dan elektronik hendak mengambil gambar atau memotret situasi korban kecelakaan di UGD RSUD dr R Soetrasno Rembang.

Ada lima orang jurnalis yang sedang bertugas kala itu antara lain Wisnu Aji dari Jawa Pos Radar Kudus, Heru Budi Santoso dari Radio CBFM, dan Dicky Prasetya dari Pop FM.

Selain itu, juga ada Jamal A Grahan dari Suara Merdeka dan Sarman Wibowo dari Semarang TV. Upaya media meliput dihalang-halangi dengan tangan orang-orang yang mengaku dari PLTU.

Beberapa petugas keamanan rumah sakit daerah, juga sempat ikut-ikutan menghalangi wartawan yang hendak melakukan peliputan dengan alasan pihak PLTU yang meminta.

Namun setelah dipahamkan kalau wartawan sudah meminta izin kepada pihak manajemen rumah sakit dan diperbolehkan, serta diingatkan jika satpam dibayar rumah sakit, jurnalis baru boleh masuk.

Hanya saja, beberapa dari mereka yang berseragam PJB justru mendatangi wartawan lalu mengancam keselamatan jiwa jurnalis apabila tetap nekat meliput.

Bahkan sempat ada yang menyita ponsel salah satu pewarta. Ancaman akan membunuh dan membakar wartawan pun dilontarkan secara silih berganti dari gerombolan orang yang mengaku pekerja dari PLTU tersebut.

Arogansi masih berlanjut dengan menampel tangan pewarta yang mengambil gambar dengan HP dan mengejar wartawan Semarang TV yang sedang bertugas.

Wisnu Aji, salah seorang wartawan mengaku ponselnya disita oleh salah seorang dari gerombolan tersebut. Ponsel itu baru dikembalikan saat Kapolres datang ke rumah sakit dan meminta HP tersebut.

Jamal A Grahan, wartawan lainnya yang sekaligus Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rembang mengutuk tindakan dari sekelompok orang dari pihak PLTU tersebut.

Menurutnya, tindakan mereka itu bertentangan dengan undang-undang pokok pers dan bisa dikenakan pidana. Apalagi kerja jurnalis dilindungi oleh undang-undang itu.

Kepada wartawan, pihak PLTU kemudian sempat meminta agar berita seputar kecelakaan kerja tersebut tidak disiarkan. Tetapi permintaan ini ditolak karena menjadi hak kontrol publik.

sumber: http://mataairradio.com/berita-rembang/liput-kecelakaan-kerja-pltu-pekerja-pers-diintimidasi

begitu juga kutipan dari nurfmrembang

Aksi pencegahan peliputan serta perampasan handphone milik wartawan oleh sejumlah pegawai PT. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sluke membuat geram Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Rembang. Pasalnya tindakan yang menjurus ke sikap arogansi ini menyalahi aturan.

Semula, sejumlah media di Rembang bermaksud meliput kejadian kecelakaan kerja yang menimpa 4 korban pekerja PLTU Sluke pada Kamis (18/8) sore. saat dimintai keterangan di RSUD Dr. Soetrasno, wartawan yang saat itu meliput yakni Jawapos Radar kudus, Pop fm, Cb fm, dan Suara Merdeka dihalang-halangi oleh sejumlah karyawan PLTU yang saat itu ikut membawa korban.

Tidak sebatas dihalang-halangi, wartawan yang bermaksud mengambil foto korban melalui kamera handphone justru dibentak dan diseret dari UGD RSUD menuju halaman Rumah Sakit. Keadaan memanas ketika handphone milik salah seorang wartawan yakni dari Jawapos Radar Kudus, Wisnu dirampas oleh petugas yang berusaha menghalang-halangi.

Tidak hanya dirampas oleh pegawai PLTU, sejumlah foto yang tersimpan dihapus oleh oknum tersebut. Setelah dimediasi oleh Kapolres Rembang, AKBP Sugiharto, oleh oknum terkait HP dikembalikan kepada wisnu. Tindakan inilah yang memantapkan organisasi kewartawanan PWI Rembang untuk melaporkan aksi ini kepada pihak kepolisian pada Jum’at (19/8) pagi.

Djamal A. Grahan, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Rembang menyayangkan aksi arogansi kepada wartawan yang bertugas. ditambah dengan perampasan Handphone milik salah satu wartawan ia menilai tindkan itu jelas melanggar UU No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

“Ini bukan lagi menyangkut antar pribadi, tapi menyangkut soal profesi kewartawanan, padahal oleh wartawan yang bersangkutan sebelumnya telah melakukan prosedur secara benar yakni meminta izin kepada pihak RSUD dan diizinkan,” Jelasnya.

Diketahui oleh PWI tingkat Jawa Tengah, pelaporan kasus ini diserahkan langsung kepada Kapolres Rembang, AKBP Sugiharto. Setelah melakukan pelaporan ke pihak kepolisian, puluhan wartawan yang tergabung dalam PWI Rembang melakukan aksi demonstrasi mengecam sikap yang dilakukan PLTU Sluke kepada salah satu wartawan di Rembang. Selain itu, aksi teatrikal yakni menggambarkan perampasan HP oleh seseorang kepada seluruh wartawan yang hadir.  Sementara Kapolres Rembang, AKBP Sugiharto mengaku akan sesegera mungkin menindak lanjuti pelaporan oleh PWI Rembang.

“Tetap akan kami tindak lanjuti laporan ini sesegera mungkin, namun juga kami sebisa mungkin melakukan langkah mediasi antara PWI dengan pihak PLTU,” Jelasnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, 4 pekerja yang menjadi korban kecelakaan kerja PLTU Sluke adalah Agus Suryono, Misbahar, Suwardi, dan Andik Purwanto. Saat ini, korban sudah dirujuk keberbagai daerah guna menjalani perawatan lebih lanjut. keempat korban ini, mengalami luka bakar di sekujur tubuh akibat terkena cairan panas salah satu alat PLTU yang bertekanan tinggi. Saat dihubungi untuk konfirmasi lebih lanjut, pihak management PLTU Sluke mengaku belum bisa meberikan klarifikasi resmi. (D.M_38).

sumber: http://www.nurfmrembang.com/berita-rembang/1335/pwi-rembang-kecam-sikap-arogansi-pegawai-pltu

(edi/zon)